SEMARANG — Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah mengonfirmasi adanya rencana investasi besar dari Australia di sektor industri baterai. Nilai investasi yang ditawarkan mencapai Rp6,4 triliun, sebuah angka yang dinilai signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di provinsi ini.
Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyampaikan bahwa pertemuan antara Gubernur Ahmad Luthfi dan investor Australia tersebut telah dijadwalkan pada 3 Agustus 2026. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari promosi investasi yang gencar dilakukan oleh pemerintah provinsi ke sejumlah negara.
Jadwal Pertemuan dan Nilai Investasi yang Dikunci
"Pada tanggal 3 Agustus nanti Pak Gubernur akan menerima investor baterai dari Australia. Rencananya mereka akan melakukan investasi sebesar Rp6,4 triliun," jelas Sakina saat ditemui di kantornya, belum lama ini.
Kegiatan promosi yang dilakukan Gubernur Ahmad Luthfi ke luar negeri diakui membuahkan hasil positif. Selain dari Australia, antusiasme investor asing juga datang dari Timur Tengah.
UEA dan Singapura Ikut Incar Jateng
Pada awal Agustus mendatang, Pemprov Jateng juga akan menerima kunjungan calon investor dari Uni Emirat Arab (UEA). Kedatangan mereka difasilitasi oleh Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Abu Dhabi, yang merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk menarik minat pengusaha asing.
"Calon investor ini dibawa oleh IIPC Abu Dhabi. IIPC ini membantu pemerintah Indonesia untuk melakukan promosi investasi, dan para pengusaha dari sana ternyata tertarik ke Jawa Tengah," kata Sakina. Meski nilai investasi dari UEA belum diungkap, pemerintah berharap pertemuan tersebut dapat berlanjut ke tahap realisasi.
Tak hanya itu, pengembangan kawasan industri juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengelola Kawasan Industri Kendal (KIK), Sembcorp asal Singapura, dikabarkan tertarik untuk kembali mengembangkan kawasan industri baru di Jawa Tengah.
Strategi Pemprov: Siapkan 17 Proyek IPRO dan Dorong Ketertiban LKPM
Untuk mengejar target investasi tahun ini, DPMPTSP Jawa Tengah tidak hanya mengandalkan kunjungan investor asing. Pemerintah juga menggencarkan promosi melalui Central Java Investment Business Forum (CJIBF) dan menyusun daftar proyek investasi siap tawarkan atau Investment Project Ready to Offer (IPRO).
"Saat ini kami sudah memiliki 17 IPRO, dan tahun ini bertambah empat IPRO lagi. Harapannya, dengan banyaknya IPRO yang ditawarkan pada forum investasi, banyak investor yang tertarik melakukan one-on-one meeting," ujar Sakina.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pelaku usaha untuk tertib menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) setiap triwulan. Pendampingan pun disiapkan bagi pelaku usaha yang mengalami kendala saat mengisi laporan tersebut.
Sementara itu, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jawa Tengah terus tumbuh, didorong oleh sektor industri kayu, hotel, restoran, kafe (horeka), ritel, dan perkantoran. Kota Semarang mencatat realisasi PMDN tertinggi berkat pesatnya perkembangan sektor ritel dan bisnis pendukungnya.
"PMDN yang banyak mendominasi di Jawa Tengah itu selain sektor kayu, juga sektor horeka serta perkantoran. Kota Semarang mencatat realisasi tertinggi. Ternyata sektor hotel, restoran, dan ritelnya berkembang sangat pesat," tandasnya.