SEMARANG — Perumda PDAM Tirta Moedal Kota Semarang resmi mengubah pola distribusi air bagi pelanggan di sejumlah wilayah Semarang Selatan. Aliran yang sebelumnya mengalir nonstop 24 jam kini dibatasi menjadi 12 jam sehari, menyusul penurunan debit air dari Bendungan Kalidoh, Bergas, Kabupaten Semarang.
Kepala Bagian Produksi I PDAM Tirta Moedal, Agung Purwantoro, mengatakan sumber air dari bendungan tersebut seharusnya memiliki kapasitas 460 liter per detik. Kondisi terkini hanya menyisakan sekitar 143 liter per detik, atau turun sekitar 25 persen dibandingkan kondisi normal.
"Sumber airnya memang dari Bendungan Kalidoh Kabupaten Semarang yang seharusnya memiliki kapasitas 460 liter per detik. Turun 143 liter per detik atau sekitar 25 persen dibandingkan kondisi normal," jelas Agung di Kantor Pusat PDAM Tirta Moedal, Jalan Kelud Raya.
Dua Wilayah Bergilir: Pagi hingga Malam, Malam hingga Pagi
PDAM membagi pelanggan terdampak ke dalam dua kelompok wilayah dengan jadwal aliran yang berbeda. Wilayah 1 mencakup Jatingaleh, Carikan, Jatiluhur, Jangli Perbalan, Saptamarga, Tamtama, dan Brigif, mendapat aliran pukul 07.00 hingga 19.00 WIB.
Sementara Wilayah 2 yang meliputi Karangrejo Selatan dan Kampung Pentul mendapat aliran pukul 19.00 hingga 07.00 WIB.
"Jadi kami terapkan giliran air, hanya mengalir 12 jam sehari dari sebelumnya mengalir nonstop 24 jam," ujar Agung.
Mengapa PDAM Pilih 12 Jam, Bukan Dua Hari Sekali
Agung menjelaskan, PDAM sebelumnya menyiapkan skema distribusi dua hari sekali jika penurunan debit semakin parah. Namun tim teknis di lapangan menilai kondisi saat ini masih memungkinkan distribusi dilakukan setiap hari.
"Setelah dilakukan evaluasi dan pengoptimalan oleh tim teknik di lapangan, saat ini kami dapat menerapkan pola aliran selama 12 jam, sehingga pelanggan tetap memiliki kesempatan mendapatkan air setiap hari," jelasnya.
Menurut Agung, pengaturan ini bertujuan membagi debit air yang tersedia secara lebih terukur. Ia menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti PDAM menghentikan pelayanan.
"Langkah ini sebagai upaya optimalisasi distribusi agar debit yang tersedia tetap dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dan pelayanan pelanggan tetap berjalan," katanya.
Sumber Air Belum Kering, tapi Butuh Pengaturan Teknis
Kepala Humas PDAM Tirta Moedal, Mayang Charisma, menyatakan sumber air saat ini masih memiliki debit dan belum berada dalam kondisi kering. Meski begitu, penurunannya dinilai cukup signifikan sehingga membutuhkan pengaturan teknis di jaringan distribusi.
"Kami juga terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kondisi sumber air, termasuk sumber yang terdampak pada aliran Bendungan Kalidoh dari sumber mata air di Kabupaten Semarang," kata Mayang.
PDAM menyebut sistem bergilir ini hanya bersifat sementara. Pola distribusi akan dievaluasi kembali apabila debit sumber meningkat dan kondisi lebih stabil.
"Prinsip kami adalah mengoptimalkan setiap debit air yang tersedia untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kepada pelanggan," ujarnya.
Imbauan Menampung Air dan Bantuan Tangki
PDAM mengimbau pelanggan di wilayah terdampak memanfaatkan waktu ketika air mengalir untuk menampung air secukupnya. Warga juga diminta tidak menggunakan air secara berlebihan selama kemarau.
"Kami tetap mengimbau pelanggan untuk menggunakan air secara bijak dan memanfaatkan waktu ketika aliran tersedia untuk melakukan penampungan atau menandon air secukupnya," tegas Mayang.
Selain mengatur distribusi, PDAM Tirta Moedal menyiapkan bantuan tangki air bagi pelanggan terdampak. Bantuan diberikan sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.
"Memang kadang bantuan tangki air ini harus menunggu dulu beberapa waktu agar pasokan air bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat seluruhnya," pungkasnya.