JAWA TENGAH — Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan memilih menyumbangkan 99% saham Meta untuk kegiatan sosial, bukan mewariskannya kepada tiga putri mereka. Keputusan pasangan miliarder ini menyimpan pelajaran soal nilai uang dan tanggung jawab dalam pengasuhan anak.
Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan menegaskan komitmen filantropi mereka lewat Chan Zuckerberg Initiative (CZI), organisasi yang didirikan setelah kelahiran putri pertama mereka. Komitmen menyumbangkan 99% saham Meta itu pertama kali diumumkan pada Desember 2015.
Kala itu, nilai saham Facebook yang mereka miliki diperkirakan mencapai US$ 45 miliar. Kini kekayaan Zuckerberg sendiri telah menembus US$ 200 miliar atau sekitar Rp 3.200 triliun.
Alasan di Balik Keputusan Tidak Mewariskan Harta
Dalam surat terbuka berjudul Letter to Max yang ditujukan kepada putri pertama mereka, Zuckerberg dan Chan menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. Mereka ingin anak-anaknya tumbuh di dunia yang lebih baik.
"Kami ingin kamu tumbuh di dunia yang lebih baik daripada dunia saat ini. Kami akan melakukan bagian kami untuk mewujudkannya, bukan hanya karena kami mencintaimu, tetapi juga karena kami punya tanggung jawab moral kepada semua anak di generasi berikutnya," tulis mereka.
Bukan Berarti Anak Tidak Dapat Warisan Sama Sekali
Komitmen menyumbangkan 99% saham Meta tidak lantas membuat ketiga putri Zuckerberg tumbuh tanpa jaminan finansial. Jika dihitung dari kekayaan US$ 200 miliar, sisa 1% saja bernilai sekitar US$ 2 miliar atau setara Rp 32 triliun.
Jumlah itu masih sangat besar untuk diwariskan kepada Maxima (10), August (9), dan Aurelia (3). Namun, pasangan ini memilih tidak memanjakan anak-anak mereka dengan segala hal yang diinginkan.
Cara Zuckerberg dan Chan Mendidik Anak di Tengah Kekayaan
Meski tumbuh dalam keluarga superkaya, ketiga anak mereka tidak dibiasakan mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Zuckerberg menyebut ada batasan yang sengaja diterapkan di rumah.
"Kami tidak memberikan semua yang mereka inginkan. Menurut saya, itu bagian yang penting. Mereka juga punya tanggung jawab dan tugas masing-masing," ungkap Zuckerberg kepada CBS Mornings.
Chan menambahkan, mereka kerap mengajak anak-anak ke kantor agar bisa melihat langsung pekerjaan orang tuanya. Maxima mulai menunjukkan ketertarikan pada dunia teknologi seperti sang ayah, bahkan sudah mencoba membuat berbagai proyek menggunakan teknologi coding.
"Dia punya keinginan alami untuk membangun sesuatu yang tidak pernah kami ajarkan. Dia sangat senang dengan gagasan bisa menciptakan sesuatu dan menghadirkannya ke dunia," kata Chan kepada Colussus.
Pelajaran untuk Orang Tua soal Nilai Uang dan Tanggung Jawab
Kisah keluarga Zuckerberg bukan soal angka warisan yang fantastis, melainkan soal batas antara memberi dan mendidik. Anak tetap mendapat rasa aman, tapi tidak otomatis mendapat semua keinginannya.
Menerapkan tanggung jawab dan tugas di rumah sejak dini bisa jadi cara sederhana menanamkan nilai serupa, terlepas dari besar kecilnya penghasilan keluarga. Anak belajar bahwa sesuatu yang berharga datang dari usaha, bukan semata dari fasilitas orang tua.
Yang paling menentukan bukan jumlah harta yang disiapkan, tapi kebiasaan dan nilai yang ditanamkan setiap hari di rumah.