Industri Film Mesir Bangkit, Produksi Naik dari 51 ke 67 Judul

Penulis: Hendra Wijaya  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 16:22:31 WIB
Produksi film layar lebar Mesir naik dari 51 judul pada 2022 menjadi 67 judul pada 2023 menurut data Kamar Industri Sinema Mesir.

JAWA TENGAH — Perhelatan El Gouna Film Festival edisi kesembilan resmi berakhir di Mesir, memantik diskusi para produser dan sineas senior soal arah industri sinema negara itu. Data Kamar Industri Sinema Mesir mencatat produksi film layar lebar naik dari 51 judul pada 2022 menjadi 67 judul pada 2023, setelah sempat anjlok ke 16 film pada 1998. Momentum pemulihan itu kini jadi pijakan untuk mendorong kualitas naskah dan distribusi yang lebih luas.

Produksi film Mesir memang pernah berjaya mendominasi pasar Arab, sebelum jumlahnya merosot tajam pada akhir abad ke-20. Pada 1988, negara itu memproduksi 112 film, lalu tinggal 16 judul sepuluh tahun berselang. Kini angkanya kembali menanjak, meski belum menyamai masa keemasan.

Naskah Jadi Akar Masalah

Produser senior asal Suriah, Mohamed Mashish, menilai modal utama untuk memanfaatkan momentum pemulihan adalah skenario. Kariernya di industri Mesir sudah terbentang puluhan tahun.

"Kita butuh lebih banyak waktu untuk pengembangan dan penulisan naskah," ujarnya kepada Variety. "Semua komponen industri sudah ada. Tapi kami tidak punya naskah. Jadi mau apa? Saya punya kamera bagus, sinematografer mumpuni, tapi tanpa naskah yang baik semua itu percuma."

Mashish bukan nama baru. Ia memproduseri drama "Grand Hotel" (2016) yang menjadi serial Mesir dan berbahasa Arab pertama yang tayang di Netflix pada 2018 dengan judul internasional "Secret of the Nile".

Generasi Muda dan Pentas Global

Menurut Mashish, sineas muda sekarang diuntungkan akses luas ke karya dari seluruh dunia. Platform streaming membuat mereka menonton lebih dari sekadar budaya sendiri, sehingga pola pikirnya lebih terbuka dan siap bergerak.

Namun keterbukaan itu perlu dipasangkan dengan pengalaman. "Generasi lama dan generasi baru harus disatukan," katanya. "Generasi baru membawa perspektif berbeda, tapi sinema tetap butuh pengalaman."

Sutradara Hadi El Bagoury, yang filmnya "Hepta: The Last Lecture" (2016) menjadi film romantis terlaris dalam sejarah sinema Mesir, menyoroti streaming sebagai peluang terbesar bagi talenta lokal.

Penonton Teluk Makin Selektif

Bagi El Bagoury, pertumbuhan platform memberi ruang tayang lebih banyak sekaligus memperkenalkan penonton pada cerita, sutradara, dan genre baru. Ekspektasi penonton pun bergeser.

"Mereka ingin genre baru, mereka ingin cerita orisinal," ujarnya.

Pergeseran itu terasa di kawasan Teluk, pasar krusial bagi film Mesir. Mashish mengingat fase awal ketika bioskop-bioskop Arab Saudi baru dibuka, penonton menerima apa saja karena semuanya masih baru.

"Sekarang mereka lebih selektif," kata Mashish. "Mereka menonton sinema internasional, jadi mereka menuntut kualitas seperti itu."

Strategi Distribusi Sejak Hari Pertama

Produser dan distributor asal Lebanon, Ziad Srouji, menegaskan bahwa menembus pasar internasional bukan berarti membuat film Arab menyerupai film Barat. Karyanya antara lain "Palestine 36".

"Spesifisitas itu yang bepergian; yang generik tidak," tegasnya. "Pembeli internasional tidak mencari film Arab yang meniru sinema genre Barat, dan mereka bosan dengan film yang dibuat hanya untuk menjelaskan kawasan ini kepada orang luar."

Srouji menilai hambatan terbesar justru bersifat struktural. Terlalu banyak film tiba di pasar tanpa agen penjualan yang terikat sejak awal, tanpa materi pengiriman siap, dan tanpa strategi positioning selain premiere di festival.

"Ide bagus membawamu masuk ke ruangan. Tapi tidak membawamu melewati produksi, dan jelas tidak membawamu sampai ke penonton," ujarnya.

Panggung Baru di El Gouna

El Gouna Festival berupaya memperkuat jalur dari tahap pengembangan. Lengan industrinya, CineGouna, tahun ini meluncurkan program Egyptian Voices yang memilih empat proyek Mesir dalam tahap pengembangan untuk pelatihan pitching, packaging, dan co-production.

El Bagoury menambahkan bahwa industri butuh lebih banyak akses langsung ke penonton, termasuk platform milik Mesir sendiri dan bioskop yang murah serta terjangkau. Tujuannya agar peredaran film tidak bergantung pada pihak lain.

Dengan produksi yang kembali naik dan ekosistem festival yang aktif, sinema Mesir berada di titik krusial: mempertahankan momentum sambil membenahi fondasi naskah, penjualan, dan distribusi yang selama ini jadi titik lemah.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top