JAWA TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,22% ke level 5.373 pada perdagangan Senin (26/10/2026), nyaris menyentuh titik terendah harian di 5.349. Tekanan jual masif dari saham infrastruktur, energi, dan teknologi menyeret indeks, dengan volume transaksi mencapai 36,96 miliar saham senilai Rp14,99 triliun.
Pelemahan indeks terjadi sepanjang sesi, dengan level tertinggi intraday hanya sempat menyentuh 5.453 pada pagi hari sebelum berbalik arah. Dari 793 saham yang diperdagangkan, sebanyak 520 saham melemah, 161 saham menguat, dan 112 saham stagnan.
Frekuensi perdagangan tercatat 1,8 juta kali transaksi. Dominasi aksi jual terlihat jelas dari rasio saham turun terhadap saham naik yang mencapai lebih dari tiga banding satu.
Saham-saham infrastruktur memimpin pelemahan dengan koreksi 2,47%. Sektor energi menyusul dengan penurunan 2,36%, disusul sektor teknologi yang terkoreksi 2,06%.
Ketiga sektor menjadi motor utama tekanan indeks pada sesi tersebut. Pelemahan merata di ketiga sektor menunjukkan aksi jual bersifat menyeluruh, bukan terbatas pada emiten tertentu.
Level penutupan 5.373 berada hanya 24 poin di atas titik terendah harian 5.349. Posisi ini mengindikasikan tekanan jual tetap kuat hingga menjelang penutupan pasar.
Total nilai transaksi yang diselesaikan mencapai Rp14,99 triliun. Volume perdagangan 36,96 miliar saham mencerminkan aktivitas jual yang tinggi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor infrastruktur dan energi.
Frekuensi 1,8 juta kali transaksi menunjukkan partisipasi pasar yang tetap ramai meski indeks tertekan. Kombinasi volume besar dan harga turun biasanya menandakan tekanan jual yang belum mereda.
Posisi indeks yang nyaris menyentuh level terendah harian menjadi sinyal hati-hati bagi pelaku pasar. Belum ada indikasi pembalikan arah (rebound) teknikal dari data sesi ini, sehingga risiko kelanjutan pelemahan masih terbuka.
Investor perlu mencermati apakah tekanan jual berlanjut ke sektor lain atau terbatas pada tiga sektor yang sudah tertekan. Perhatikan juga apakah ada aliran dana asing yang masuk kembali ke pasar.
Bagi pemegang saham di sektor infrastruktur dan energi, koreksi dua sesi terakhir menjadi momentum untuk mengevaluasi ulang bobot portofolio. Sektor teknologi yang ikut tertekan 2,06% menambah daftar sektor yang perlu dipantau pergerakannya.