JAWA TENGAH — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong transformasi literasi digital nasional dengan menempatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai puncak perubahan dari budaya baca-tulis ke penguasaan teknologi. Dalam video yang diunggah pada Selasa (16/6), ia menyebut Indonesia tidak punya pilihan untuk menutup mata terhadap gelombang AI.
"Kita tidak bisa lagi menutup mata, atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujar Gibran dalam pernyataan yang dikutip dari akun TikTok resminya.
Etika Jadi Fondasi, Bukan Sekadar Pelengkap
Gibran secara eksplisit menempatkan etika sebagai aspek yang jauh lebih krusial ketimbang kemampuan teknis semata. Ia mengingatkan bahwa teknologi tanpa pegangan moral berpotensi melahirkan kekacauan sosial.
"Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme atau melanggar privasi orang lain," tuturnya.
Wapres menekankan integritas harus menjadi landasan dalam setiap penggunaan AI. "Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial," kata Gibran, yang dalam video itu tampak memangku dan mengelus kucing.
Pelajar Hingga Guru Jadi Sasaran Utama Literasi AI
Gibran menyasar kelompok pelajar, guru, dan orang tua sebagai garda terdepan adaptasi AI. Pelajar diminta memahami AI sebagai alat akselerasi, bukan pengganti kemampuan berpikir. Ia menyebut AI dapat membantu belajar bahasa asing, mencari data, hingga memahami rumus matematika secara sederhana.
Sementara itu, guru yang menguasai AI disebut akan memiliki "kekuatan super" dalam mendidik. Gibran menjelaskan AI bisa meringankan beban administratif guru, mulai dari membuat soal, menyajikan penjelasan yang lebih sederhana, hingga memberikan contoh kasus yang membuat murid lebih mudah menyerap materi.
"Sehingga bapak ibu punya lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid-murid kita," ucap dia.
Orang tua juga diingatkan untuk tidak tertinggal. "Jangan sampai anak terbang tinggi dengan teknologi, tapi orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses," pesan Gibran.
Pemerintah Klaim Siapkan Ekosistem Berbasis Standar UNESCO
Di sisi kebijakan, Gibran menyatakan pemerintah telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology untuk AI yang disusun UNESCO. Instrumen ini berfungsi sebagai alat