JAWA TENGAH — Laba kotor TBS pada enam bulan pertama tahun ini melonjak dua kali lipat menjadi USD28,23 juta. Kinerja tersebut juga terbantu oleh tidak adanya lagi kerugian divestasi entitas anak yang pada semester I-2025 membebani laporan keuangan hingga USD96,87 juta.
Yang lebih penting, arus kas dari aktivitas operasional berhasil berbalik ke posisi positif. Pada Januari–Juni 2026, TBS membukukan arus kas operasi sebesar USD14,58 juta, kontras dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih negatif USD31,57 juta.
Pendapatan Nonbatu Bara Kini Dominan
Perubahan struktur bisnis TBS mulai terlihat nyata. Segmen nonbatu bara—yang mencakup pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik—kini menyumbang 66,51 persen dari total pendapatan. Sementara itu, kontribusi bisnis batu bara menyusut menjadi 31,4 persen.
Pergeseran ini bukan fenomena musiman. Pola yang sama sudah terlihat pada kuartal I-2026, dan porsi sektor nonbatu bara justru bertambah lagi pada kuartal II. Artinya, transformasi portofolio yang dicanangkan manajemen mulai membuahkan hasil secara struktural.
Dampak ke Kinerja dan Arah Bisnis
Perbaikan margin dan kemampuan menghasilkan kas ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa arah diversifikasi TBS tidak berhenti di atas kertas. Dengan bisnis batu bara yang terus menyusut porsinya, perseroan kini lebih bertumpu pada sektor yang punya prospek jangka panjang seiring tren transisi energi nasional.
Meski masih mencatat rugi bersih, laju perbaikannya yang signifikan menunjukkan bahwa beban-beban berat—termasuk kerugian divestasi—sudah berada di belakang. Fokus manajemen ke depan adalah memastikan segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik bisa terus tumbuh dan pada akhirnya mendorong TOBA kembali ke jalur profitabilitas.