Pencarian

Petani Jateng Kini Terima Gaji Selama Masa Tanam, JTAB Petani Gajian Bidik 1.000 Peserta

Jumat, 18 September 2026 • 06:17:01 WIB
Petani Jateng Kini Terima Gaji Selama Masa Tanam, JTAB Petani Gajian Bidik 1.000 Peserta

WONOGIRI — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui PT Jawa Tengah Agro Berdikari (JTAB) menjalankan program JTAB Petani Gajian di sejumlah daerah. Skema ini menjawab dua persoalan lama petani: modal awal musim tanam dan kepastian pembeli saat panen tiba.

Direktur Utama PT JTAB Totok Agus Siswanto menyebut program sudah berjalan di Kabupaten Sukoharjo, Sragen, Klaten, Semarang, dan sejumlah daerah lain. Komoditas yang digarap meliputi padi, bawang merah, dan jagung.

Bagaimana Skema Gaji per Hektare Bekerja

JTAB menyiapkan modal produksi yang dibutuhkan petani sejak pengolahan lahan hingga panen. Selama masa tanam, petani menerima penghasilan atau gaji sesuai UMK per hektare.

Ketika panen tiba, hasil produksi ditampung JTAB sebagai off taker dengan harga pembelian mengikuti standar pemerintah. Dari penjualan itu dilakukan pengurangan untuk pengembalian modal dan pembayaran gaji.

Jika masih ada sisa setelah semua komponen diperhitungkan, kelebihan dikembalikan kepada petani. Pola ini membuat petani tak perlu mencari modal sendiri di awal musim atau bingung mencari pembeli.

"Melalui Program JTAB Petani Gajian ini, kita memberikan kepastian hasil kepada kepada petani, bantuan modal, pengaturan komoditas yang ditanam, lalu kami kasih penghasilan (gaji) sesuai UMK per hektare, dan kemudian kami sebagai off taker (pembeli) hasil panen," kata Totok, baru-baru ini.

Petani Penggarap Ikut Masuk Skema

Peserta program tidak terbatas pada petani pemilik lahan. Petani penggarap juga dapat masuk dalam skema yang sama, sehingga akses modal dan pendapatan selama masa tanam terbuka lebih luas.

Hingga September 2026, sekitar 80 petani dengan total luas lahan sekitar 200-an hektare tercatat mengikuti program. JTAB menargetkan sekitar 1.000 petani dapat terakomodasi.

Dukungan Pembiayaan dan Asuransi Gagal Panen

Untuk mendukung pembiayaan dan perlindungan petani, JTAB menggandeng PT BPR BKK. Kerja sama juga dilakukan dengan Jamkrida untuk kredit petani serta Jasindo dalam perlindungan terhadap risiko gagal panen.

Ruswanto, petani padi asal Kabupaten Sukoharjo, mengaku dukungan modal membuatnya tidak lagi memikirkan biaya produksi sejak awal pengolahan lahan hingga panen. Kebutuhan mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan hingga panen mendapat dukungan dalam program.

"Penjualan padi juga sudah ditampung oleh PT JTAB. Saya dukung, dan semoga bisa diperluas dan ditambah jaringannya," ujar Ruswanto.

Dorong Petani Muda Masuk Sawah

Totok berharap kepastian pendapatan dan pasar hasil pertanian menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk melihat sektor pertanian sebagai pilihan pekerjaan.

"Harapan kami, dengan adanya kejelasan dan masa depan yang bagus, nanti akan membuat petani-petani muda kita mau terjun ke sawah. Dari awal kita sudah ada kesepakatan harga beli hasil panen," jelasnya.

Pemprov Jawa Tengah melihat peluang memperluas cakupan program karena wilayahnya memiliki sekitar 1,5 juta hektare lahan pertanian. Perluasan diharapkan menjangkau lebih banyak petani, termasuk petani penggarap, agar akses modal, pendapatan selama masa tanam, dan kepastian penyerapan hasil pertanian makin merata.

Follow semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglosemarnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks