PEKALONGAN — Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kutosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, memakai pendekatan budaya untuk mendekati warga Nahdliyin di kampung sebelah. Ekstrakurikuler hadrah dibuka, mobil antar-jemput disiapkan. Hasilnya, sekitar 50 siswa yang masuk ke madrasah itu berasal dari keluarga bukan Muhammadiyah.
Kepala MI Muhammadiyah Kutosari, Nur Hidayah, menyebut langkah itu lahir dari persoalan mendasar. Setiap tahun, madrasahnya kesulitan mendapat siswa baru karena berada di wilayah yang mayoritas bukan warga Muhammadiyah.
"Ini berawal dari ikhtiar kami dalam rangka untuk menambah siswa baru, karena sekolah kami ini adalah sekolah di wilayah minoritas. Setiap tahunnya itu kami kesulitan untuk mendapatkan murid," kata Nur Hidayah.
Mengapa Hadrah Jadi Pilihan Pendekatan
Hadrah dipilih bukan tanpa alasan. Seni rebana dengan vokal selawat berbahasa Arab itu lekat dengan tradisi warga Nahdliyin di kampung sekitar madrasah. Sekolah menilai kegiatan ini lebih mudah diterima dibanding pendekatan formal.
"Akhirnya ini ikhtiar kami untuk merangkul warga sebelah (Nahdliyin) agar mau menyekolahkan anaknya di madrasah kami," ujarnya.
Grup hadrah Surya Gema Shalawat beranggotakan sekitar 15 siswa. Mereka tampil memainkan rebana lengkap dengan vokal selawat dalam acara Konsolidasi Muhammadiyah Pekalongan di Masjid Hj Mutimah Dahlan, Doro, Minggu (13/9/2026).
Layanan Antar-Jemput Tambah Daya Tarik
Selain ekstrakurikuler, sekolah menyediakan mobil antar-jemput siswa. Dua layanan itu dinilai Nur Hidayah mulai mengubah minat warga sekitar.
"Alhamdulillah, selain ada ekstrakurikuler hadrah, juga ada layanan mobil antar-jemput siswa. Akhirnya dengan dua ikhtiar itu, sedikit demi sedikit, setiap tahunnya madrasah kami siswanya meningkat," katanya.
Peningkatan itu terlihat dari jumlah siswa asal kampung sebelah yang bukan dari keluarga Muhammadiyah. Kini jumlahnya sekitar 50 orang.
Yang Berubah dari Pendekatan Ini
Penerimaan siswa dari luar komunitas Muhammadiyah mengubah komposisi murid MI Muhammadiyah Kutosari. Madrasah yang sebelumnya bergantung pada warga Muhammadiyah setempat kini punya basis siswa lebih luas.
Bagi warga Nahdliyin, ekstrakurikuler hadrah dan antar-jemput menjawab dua kebutuhan sekaligus: kegiatan keagamaan yang sesuai tradisi mereka dan akses transportasi ke sekolah. Pendekatan serupa bisa jadi rujukan madrasah lain di wilayah minoritas Muhammadiyah.